
Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih seekor kambing. Seperti kebiasaan beliau, dagingnya dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ketika beliau bertanya kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha tentang apa yang tersisa, Aisyah menjawab, “Tidak tersisa darinya kecuali bagian pundaknya”. Jawaban ini tampak logis, karena yang ada di rumah memang hanya itu. Namun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan makna “tersisa” dengan cara pandang langit, bukan logika bumi. “Tersisa seluruhnya kecuali bahunya.” (HR. Tirmidzi). Justru yang benar-benar tersisa adalah yang telah disedekahkan, sedangkan yang dimakan sendiri itulah yang sebenarnya habis.
Hadis ini mengajarkan perubahan cara pandang yang mendasar tentang harta. Dalam logika manusia, memberi berarti berkurang. Namun dalam logika iman, memberi justru menambah bukan pada jumlah yang kasat mata, tetapi pada nilai yang kekal. Apa yang kita simpan akan habis dimakan waktu, sementara apa yang kita infakkan akan menetap sebagai pahala yang terus mengalir. Di sinilah Islam mendidik umatnya agar tidak terjebak pada rasa takut kehilangan, melainkan tumbuh dalam keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik Penjamin rezeki.
Lebih dari sekadar anjuran sedekah, hadis ini membentuk karakter kepedulian sosial. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menjadikan berbagi sebagai sisa dari kebutuhan pribadi, tetapi sebagai prioritas. Ini adalah pesan kuat bagi kita hari ini di tengah ketimpangan, bencana, dan krisis kemanusiaan, bahwa keberkahan hidup tidak lahir dari menumpuk, melainkan dari mengalirkan. Ketika tangan kita terbuka untuk memberi, saat itulah Allah membuka pintu-pintu kebaikan yang tak terduga.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak kita meninjau ulang pertanyaan penting: apa yang benar-benar ingin kita sisakan untuk akhirat? Apakah harta yang habis bersama usia, atau amal yang hidup melampaui umur kita? Setiap sedekah, wakaf, dan kepedulian yang kita tunaikan hari ini, hakikatnya adalah tabungan abadi. Kelak, ketika dunia tak lagi menyertai, itulah yang akan benar-benar “tersisa”.